Kacamata


Jika sebuah kereta hendak dilajukan maka rel harus disediakan dengan "matang" dan "tepat", dengan harapan kereta tersebut dapat tiba pada stasiun yang tertera pada kolom tiket yang dicetaknya. Begitu pula dengan sebuah rasa, haruslah sesuai dengan jalur dan tujuan yang telah ditetapkan Sang Pencipta, sehingga si empunya tiket cetak tak merasa telah salah menapak.



Apakah sebuah rasa selalu benar? Atau sebaliknya sebuah rasa selalu salah?

Dia berjalan pada sebuah jalur angin yang membawanya menjadi dirinya sendiri. Dia sungguh menikmati desiran angin yang tak sengaja menghantam daging indahnya, serta membuat benang yang dirajut tak mampu menjadi perisai bagi kulit yang bersembunyi dari nafsu dunia. Angin yang membawanya hanyut pada dunia dua lorong, sehingga ketika angin berhenti memberikan hembusannya maka yang terjadi ialah dia akan tersentak bangun dari khayalannya. Hanya ada dua pilihan yang tersedia untuk semua pertanyaan yang terbesit di dalam benaknya: putar arah atau teruskan.

Kedua pilihan yang memiliki berat tanggungan yang sama namun berbeda dampak.

Ketika dia memilih untuk meneruskan, maka rasa rindu tidak akan mampu tersampaikan hingga pasir waktu habis berpindah wadah. Tetapi dibalik itu semua, dia selalu memiliki kesempatan untuk mencari pengganti rasa rindu dengan maksud menutupi rasa-rasa sebelumnya. Memulai rajutan baru tanpa benang baru, memulai ikatan baru tanpa memutuskan ikatan sebelumnya, seolah-olah dia tidak pernah ada di dunia ini. Memilih untuk meneruskan berarti bersiap menemukan kisah yang jauh berbeda dari kisah sebelumnya, banyak pembatas rel kereta yang menjadi peringatan-peringatan untuk tidak melewati batas kawasan yang dapat merengut nyawa dan sebagai penebus pembatas itu, semuanya akan terukir indah pada ingatan bahkan terasa manis pada pendengaran. Namun, memori ini akan berujung pada titik yang sama yaitu tidak adanya sebuah pertemuan yang mampu menuangkan rasa yang sesungguhnya. Miris, tetapi itulah tanggungan yang harus dipikul tanpa ada akhir atau sepertinya ada akhir? Namun, dinikmati oleh orang yang berbeda dengan sudut pandang yang mungkin hanya memenangkan satu rasa, yaitu penyesalan.

Kemudian, ketika dia memilih untuk memutar arah berarti dia memilih untuk siap untuk menanggung setiap bunga dari dosa-nya. Memutar berarti meninggalkan, melupakan dan terbiasa tanpa bayangan mereka. Memutar berarti tidak ada lagi rindu yang tak mampu disentuh. Semua akses terbuka untuk dijelajahi karena tidak ada lagi papan-papan pembatas pada rel kereta yang  sedang melaju atau bahkan kereta beserta rel-nya sudah lenyap. Dia dimampukan untuk mengecap sebuah perjalan dengan beban yang sama berat namun berbeda dampak. Sebuah kebebasan yang diharapkan ditengah-tengah mimpi buruk yang mengintilnya. Sebuah perjalanan baru dengan benang baru dan menghasilkan sebuah rajutan kasih yang mungkin belum pernah dihirup nya selama perjalanan rasa. Pertemuan akan diciptakan untuk memproklamasikan sebuah keterikatan yang tidak menyakitkan, sebuah genggaman yang akan bertransfusi sebagai candu rindu untuk menghangatkan dan meneduhkan gundah gulana.

“Dia seharusnya tidak memakai bulu domba, karena dia bukan serigala (lagi).
Dia hanya tersesat oleh sebuah kereta yang melaju tanpa masinis.”



Berikan ia sebuah cahaya. Dia hanya butuh pencerahan tanpa pencacian. Dia hanya tak berdaya melawan kuatnya rasa, berikan dia prosedur yang benar dalam memutar kembali  stir kehidupan. Dia hanya ingin keluar dan disambut dengan dekapan. Dia hanya ingin berada pada stasiun yang menerima kesalahan perjalanan keretanya. Dia hanya ingin pulang dan menikmati rasa. 
                                           
Bisikku, "kembalilah."






- 25 September 2018

                                                                                                                                                              YCS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pekatnya malam di bawah "gajebo"